Berita Astra Digital

Astra Digital Academy Immersion Day x Amazon Web Services (AWS)

Astra Digital Assets Astra Digital 2· 01 Desember 2023
Astra Digital Assets

Rangkaian Astra Digital Academy Immersion Day x Amazon Web Services (AWS) berlangsung Kamis (30/11) bertempat di AWS Jakarta Office, Gedung Sinarmas MSIG Tower, lantai 16, Jakarta Pusat. 

 

Pada kesempatan itu, sekitar 50 peserta dari seluruh unit usaha Grup Astra mendapatkan sharing dan pelatihan dengan tema Amazon's Culture of Innovation, and AI for Business.

 

Rangkaian Immersion Day ini disambut baik oleh Paul Soegianto Chief of Group Digital Strategy. Menurutnya kesempatan kolaborasi ini membuka pintu bagi kedua pihak untuk mengembangkan layanan digital menjadi semakin baik.

 

“Kita belajar lebih dalam lagi dan bekerjasama dengan banyak pihak termasuk dengan AWS. Kita lebih terbuka dan terus belajar, saling improve untuk menghasilkan produk yang lebih baik lagi. Terimakasih untuk teman-teman AWS telah membuka kesempatan ini,” ujar Paul.

 

Pada sesi pertama diberikan oleh Rudi Suryadi sebagai Head of Solution Architect Amazon Web Services Indonesia. Rudi menerangkan sesi bertema Culture of Innovation and an Introduction to Working Backwards

 

kGGQoLqwmGooXXJICtt36BWDBWE0Xe9GyJU0iYTKY0Me-8niY3Kd1jV2eoWFC2bxKtQJhfUA2kMeFX8FDGzCh6Jo24sTfqvOnrUyYkWZwusEbHE8eCN_m9DdDvFyMROekzpo30dByu4SBdarTFV5O1E

 

Dalam kesempatan itu Rudi menjelaskan nilai-nilai perusahaan yang dianut oleh Amazon. Perusahaan raksasa tersebut memiliki misi menjadi “To be the Earth most customer centric company.”

 

Dalam kata lain, Amazon ingin menjadi perusahaan yang paling mengutamakan konsumen atau pelanggan dalam setiap layanan mereka.

 

“Amazon dibangun Jeff Bezos sekitar tahun 1994, namun perusahaannya hanya dalam 29 tahun saat ini telah menjelma menjadi salah satu korporasi raksasa di dunia dan Bezos menjadi deretan orang terkaya di dunia. Apa rahasianya? Jeff secara sadar, apapun bisnisnya Amazon di masa depan harus selalu berpusat pada pelanggan,” terang Rudi.

 

Amazon beranggapan bahwa pelanggan itu selalu tidak puas. Walaupun kita menjual barang yang bagus, pelayanan yang baik, growth bagus, tetapi selalu ada ketidakpuasan. 

 

Dalam pandangan Bezos ketidakpuasan konsumen harus disikapi sebagai sesuatu yang indah. “Saat kita melihat ketidakpuasan konsumen sebagai sesuatu yang indah, maka ini akan memacu kita untuk terus  melakukan inovasi,” tambah Rudi.

 

Dengan menerapkan fondasi tersebut, perusahaan ini menggurita dan berkembang dari sebuah toko buku online sampai menjual apa saja, hingga membuat device, streaming content, consumables sampai physical retail. 

 

Orientasi pada kebutuhan konsumen 

 

v0y4Tj1oTYdAQFI8qDJRGiDzmRAamhsRTZisUfgfSu-cZFgkV0SNn0j0iR0QWFIYDjmfm0U7kUGmvGSa2RiZCjK7dQIVh09gTLYNCeRzpTb7X4n1vUHTbAAcn1mPOjufWNXUkps8DEtrSK87PechsaY

 

Uniknya, Amazon tidak memiliki divisi khusus untuk RnD (research and development) dan mencari inovasi. Namun faktanya perusahaan mendistribusikan inovasi ke seluruh karyawan. Sehingga setiap pegawai dapat berkontribusi langsung dengan memikirkan inovasi bagi kepuasan pelanggan.

 

Lalu bagaimana cara Amazon membuat inovasi tersebut terdistribusi? “Saat melakukan inovasi harus memudahkan pelanggan, dibuat sesederhana mungkin. Tidak perlu mengikuti tren, yang penting adalah sederhana dan berguna bagi pelanggan,” ujar Rudi.

 

Ada 4 hal yang menjadi prinsip Amazon dalam menemukan solusi terbaik bagi pelanggannya. Hal itu adalah Culture, Mechanism, Architecture dan Organization. 

 

Culture bicara pada orientasi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Mekanisme, kepuasan pelanggan adalah tujuan utama. 

 

EWY6bRuZ_oSRghoSD5jbEdNgJUVLrgvjE12H2cKeJ8X2O4iAgrD_jcNYxQppOJIbCHtcPbpgNlaJ2CHrRzYoVMO8bBKrkeWRvZgPYi-1R95vcNjG-Q3ipwHOPVzOVoVG_zZU4Emx2xVZT1EZ2pOikLc

 

Architecture, kita mencari orang yang bisa bekerja bukan bisa memerintah. Sementara Organization menjadi muara terakhir bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan bagi seluruh konsumen.

 

Dalam praktiknya, perusahaan menganggap kegagalan bukan sebuah masalah. Amazon memiliki nilai-nilai perusahaan yang adil, sehingga setiap kesalahan yang dilakukan saat melakukan eksperimen dan mengembangkan inovasi, tidak dibebankan pada karyawan.

 

Contoh kasus, belajar dari kesalahan Amazon pernah membuat Auction, zShops hingga Fire Phone. Kegagalan tersebut kemudian membawa perusahaan bertransformasi menjadi Marketplace. 

 

Langkah ini tidak hanya berhasil, bahkan menyumbang lebih dari 50 persen revenue Amazon). “Mental untuk tidak menyerah pada kegagalan itu penting. Sebagai perusahaan harus punya mental baja, tidak menyerah dan belajar dari kesalahan,” tutup Rudi.

 

Layanan data AWS

 

Sesi berikutnya dibawakan oleh Adrianus Kurniadi sebagai Sr. Solution Architect Amazon Services. Ia memaparkan secara singkat bagaimana peranan data dalam era cloud computing sekarang.

 

“Data adalah sesuatu yang sangat penting. Ada yang bilang data is the new oil. Sebagai business insight, mengolah data memungkinkan kita memperoleh revenue growth sekitar 20%,” paparnya. 

 

Dalam survey ditemukan sebanyak 32% perusahaan yang telah menggunakan pengolahan data, akan memperoleh value dari data yang diaplikasikan pada pengambilan keputusan.

 

“Data yang disediakan oleh Amazon harus berkualitas, lengkap (fluid) artinya tidak terputus, akurasinya dapat dipertanggung jawabkan, agar pelanggan secara pasti dapat menggunakannya tanpa ragu dan valid,” tambah Adrianus.

 

Amazon Web Service bagian dari korporasi Amazon dan berdiri sejak tahun 2006. Saat ini AWS memiliki lebih dari 200 lebih layanan, mulai dari hosting, database, IoT dll. 

 

AWS saat ini memiliki 1,5 juta lebih pelanggan dan layanannya tersebar di 245 negara di dunia. AWS sebagai pemain utama di cloud computing dengan menguasai pasar hingga 38,9 persen.

 

Di Indonesia established 2018, hingga saat ini telah melatih lebih dari 250 ribu masyarakat tentang cloud computing. AWS memiliki 3 data center di regional Jakarta untuk menjamin layanan pada pelanggan berjalan dengan sempurna.

 

Sesi training dimulai tepat pukul 13.05 WIB dengan para peserta mengisi lembar latihan yang telah dibagikan sebelumnya. Peserta dilatih untuk memiliki sikap customer oriented, dimulai dengan mendeskripsikan karakteristik pelanggan yang berbeda-beda sesuai produk perusahaan masing-masing.

 

Peserta kemudian diminta mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan dari pelanggan, dan memetakannya dalam kalimat singkat yang menggambarkan apa yang menjadi kondisi pelanggan saat ini.

 

Dari hal tersebut para peserta dapat menganalisa peluang-peluang yang dapat dikembangkan untuk menjawab setiap keluhan atau kebutuhan pelanggannya. Padat dan menarik bukan Immersion Day kali ini? Sampai bertemu pada program-program Astra Digital selanjutnya ya!

 

HUBUNGI KAMI

Ada pertanyaan?
Kami terbuka untuk berdiskusi dan melihat bagaimana kami bisa membantu Anda mewujudkan ide-ide yang ada.