AstraSatu Indonesia

Digitalisasi Dunia

China Berhasil Membangun Mesin Lithography Sendiri, Siap Saingi ASML?

Selama bertahun-tahun, ASML dipandang sebagai pemain kunci yang paling tak tergoyahkan dalam industri semikonduktor global. Hampir seluruh chip canggih, mulai dari prosesor AI, smartphone flagship, hingga komputasi performa tinggi, bergantung pada mesin lithography buatan perusahaan Belanda ini. EUV (Extreme Ultraviolet) lithography bukan sekadar produk unggulan, melainkan fondasi teknologi yang menentukan siapa bisa memproduksi chip paling maju.

China Berhasil Membangun Mesin Lithography Sendiri, Siap Saingi ASML?

 

Namun dinamika ini mulai bergeser. Dorongan geopolitik, kontrol ekspor, dan kebutuhan industri domestik memaksa China untuk menempuh jalur yang selama ini dianggap nyaris mustahil: membangun kapabilitas lithography sendiri, meski tidak langsung menyamai ASML.

 

 

Merekrut veteran ASML untuk me-reverse engineering mesin EUV

Tiongkok dilaporkan menjalankan proyek ambisius di Shenzhen yang melibatkan sekelompok veteran dan mantan insinyur ASML untuk membangun mesin litografi EUV secara mandiri guna menyaingi Barat. Untuk mempercepat riset, tim ini menggunakan strategi "jalan pintas" dengan membeli mesin-mesin litografi model lama dari pasar sekunder; mesin-mesin ini kemudian dibongkar dan dipelajari setiap komponennya melalui proses reverse engineering. Meskipun mesin lama tersebut jauh tertinggal dari teknologi EUV terbaru, para ahli ini memanfaatkan pengetahuan mendalam mereka untuk mengidentifikasi bagian-bagian kritis yang bisa dimodifikasi atau direplikasi.

Tingkat kerahasiaan proyek ini sangat ekstrem: para teknisi dan insinyur bekerja di bawah identitas samaran atau nama alias pada kartu pengenal mereka untuk menghindari pelacakan oleh otoritas keamanan Barat dan sanksi hukum dari mantan perusahaan mereka. Upaya masif yang menggabungkan talenta "curian" dan perangkat keras bekas ini membuahkan hasil yang mengejutkan, di mana pengajuan paten terkait komponen mesin canggih berhasil diselesaikan hanya dalam waktu beberapa bulan. Langkah ini menjadi strategi utama Beijing untuk memutus ketergantungan pada ASML dan memastikan bahwa blokade ekspor chip AI dari Amerika Serikat tidak melumpuhkan ambisi teknologi Tiongkok di masa depan.

 

 

Mengapa Lithography Menjadi “Mesin Kunci” Produsen Chip Global

Lithography adalah jantung manufaktur chip modern. Tanpa mesin lithography mutakhir, seluruh ekosistem AI, smartphone, otomotif listrik, hingga sistem militer canggih akan terhambat. Inilah yang membuat ASML menjadi perusahaan paling strategis dalam rantai pasok teknologi global—bahkan lebih strategis daripada banyak pembuat chip itu sendiri.

Keunggulan ASML bukan semata karena satu terobosan teknologi, melainkan akumulasi puluhan tahun rekayasa lintas disiplin: optik presisi ekstrem, laser berdaya tinggi, software kontrol kompleks, serta jaringan pemasok global yang sangat terspesialisasi. EUV bukan produk yang bisa ditiru dengan cepat, berapa pun modal yang dimiliki.

Inilah alasan mengapa, selama bertahun-tahun, tidak ada kompetitor nyata ASML. Bukan karena kurangnya talenta di negara lain, tetapi karena biaya, waktu, dan kompleksitas ekosistem membuat upaya menyaingi ASML tampak irasional secara ekonomi.

 

Kontrol Ekspor Mengubah Masalah Pasar Menjadi Kebutuhan Prioritas Nasional

Situasi berubah ketika kontrol ekspor AS dan sekutunya secara efektif memutus akses China terhadap mesin lithography paling canggih. Apa yang sebelumnya merupakan masalah pasar—beli jika mampu—berubah menjadi masalah utama kapabilitas nasional.

Bagi China, lithography tidak lagi soal mengejar node paling mutakhir. Ia menjadi soal kelangsungan industri: bagaimana mempertahankan produksi chip untuk AI, kendaraan listrik, otomasi industri, dan sistem strategis lainnya, di bawah pembatasan teknologi.

Di titik inilah pendekatan China menjadi berbeda. Alih-alih mengejar EUV setara ASML secara langsung, perusahaan-perusahaan China mulai fokus pada “good-enough lithography”—sistem yang mungkin tertinggal secara node, tetapi cukup untuk menopang kebutuhan domestik dalam skala besar.

Bagi China, independensi dan kontinuitas kini lebih penting daripada memproduksi chip paling canggih di dunia. Untuk banyak aplikasi—AI inference, EV, robotik, otomasi pabrik—node yang sedikit lebih besar tetap dapat bekerja, selama produksi bisa berkelanjutan dan tidak tergantung pada pihak asing.

Inilah yang membuat dorongan lithography domestik China menjadi disruptif secara strategis, meski belum menyaingi ASML secara teknis. Walaupun mereka tidak secanggih ASML, namun hal ini dapat mengurangi daya tawar geopolitik ASML karena bisa menurunkan ketergantungan absolut.

 

 

Talenta: Pola Lama yang Terulang Kembali

Ada satu aspek yang jarang dibahas, namun sangat menggelitik: pola rekrutmen talenta China di perusahaan asing, lalu “ditarik kembali” untuk membangun pesaing domestik.

Ini bukan fenomena baru. Beberapa contoh yang sering dibahas di industri:

  • Liang Mong-song (TSMC ke SMIC): Dianggap sebagai pembelotan paling berpengaruh, Liang Mong-song adalah ilmuwan R&D papan atas TSMC yang pindah ke SMIC setelah sempat singgah di Samsung. Di bawah kepemimpinannya, SMIC berhasil melakukan lompatan teknologi yang luar biasa dari proses 28nm ke 7nm dalam waktu singkat, yang secara signifikan mempercepat kemampuan Tiongkok untuk memproduksi cip canggih di tengah sanksi global.
  • Xiaolang Zhang (Apple ke Xpeng): Dalam sektor otomotif dan AI, Xiaolang Zhang yang merupakan insinyur proyek mobil rahasia Apple (Project Titan) ditangkap saat mencoba terbang ke Tiongkok setelah mengunduh data sensitif, termasuk desain sirkuit dan infrastruktur data otonom.  
  • Stephen Chen (Micron ke Fujian Jinhua): Kasus ini melibatkan mantan eksekutif Micron yang merekrut rekan-rekan lamanya untuk membawa cetak biru dan resep manufaktur memori DRAM ke perusahaan dukungan negara Tiongkok, Fujian Jinhua.

Pola ini konsisten: pengalaman global dikumpulkan, lalu digunakan untuk membangun kompetitor domestik.

Kasus lithography memunculkan kembali pertanyaan sensitif: jika pengalaman, proses, dan know-how bisa “dibawa pulang” lewat talenta, apakah perusahaan teknologi global ke depan masih akan merekrut insinyur China untuk posisi paling strategis?

Inilah dilema besar industri teknologi global ke depan. Di satu sisi, talenta China merupakan bagian penting dari ekosistem teknologi dunia—terdidik, terampil, dan berpengalaman di perusahaan global. Di sisi lain, dalam era tech decoupling, perekrutan talenta juga dipandang sebagai potensi transfer kapabilitas strategis.

Kasus lithography China dan kasus-kasus lainnya memperkuat kekhawatiran bahwa keunggulan teknologi tidak lagi hanya bocor lewat supply chain, tetapi lewat manusia. Dan berbeda dengan mesin, manusia tidak bisa dikontrol dengan lisensi ekspor.

 

Penutup: Lithography Bukan Lagi Sekadar Alat Produksi

Apa yang terjadi hari ini menunjukkan satu pergeseran besar. Lithography bukan lagi sekadar manufacturing tool, melainkan kapabilitas geopolitik.

ASML mungkin masih unggul secara teknis. Namun dominasi absolutnya kini diuji bukan oleh satu pesaing langsung, melainkan oleh strategi nasional yang mengutamakan kemandirian di atas keunggulan frontier.

Di dunia semikonduktor masa depan, pertanyaannya bukan lagi siapa yang punya teknologi paling canggih, tetapi siapa yang bisa memastikan teknologi itu tetap tersedia saat dunia terbelah. Dan apakah monopoli ASML akan segera berakhir?

 

 

Artikel Sebelumnya
Berlangganan buletin kami untuk pembaruan
Astra Digital

Quick Menu

Lainnya

© 2026 AstraDigital

Punya Pertanyaan?

Terhubung dengan kami

Globe