AstraSatu Indonesia

Digitalisasi Dunia

Pergeseran Pencarian ke TikTok & AI: Benarkah Google akan Ditinggalkan?

Cara orang mencari informasi kini sangat ditentukan oleh niatnya. Coba Anda perhatikan, dulu, ketika ingin mencari apapun, orang pasti akan ke Google. Namun sekarang, pengguna yang ingin membeli barang akan langsung membuka platform e-commerce. Demikian pula untuk orang yang ingin mencari ide atau jawaban cepat, banyak yang mulai beralih ke TikTok atau platform AI.

Pergeseran Pencarian ke TikTok & AI: Benarkah Google akan Ditinggalkan?

Hal ini menunjukkan sebuah pergeseran habit, sekaligus menunjukkan bahwa setiap platform kini memiliki perannya masing-masing, menciptakan ekosistem pencarian yang lebih terfragmentasi dan sesuai kebutuhan.

 

 

Pencarian Terpecah Dua: Ritel dan Non-Ritel
Pergeseran perilaku ini menunjukkan bahwa niat pencarian kini terpecah menjadi dua kategori besar: pencarian ritel dan pencarian non-ritel.

Pencarian ritel adalah ketika seseorang memiliki niat untuk membeli produk. Perilaku ini telah memecah dominasi Google. Di Amerika Serikat, misalnya, sebagian besar pembeli ritel kini memulai perjalanan mereka langsung di platform e-commerce. Data menunjukkan bahwa 50% pengguna di Amerika Serikat memulai dari Amazon untuk melakukan pencarian produk.

image.png

Sebaliknya, pencarian non-ritel adalah ketika seseorang membutuhkan informasi, ide, atau jawaban cepat. Untuk tujuan ini, platform AI generatif seperti ChatGPT, atau media sosial seperti TikTok, menjadi pilihan. Mereka beralih ke platform ini bukan untuk membeli, melainkan untuk mendapatkan jawaban yang ringkas, langsung, atau perspektif visual.

 

Tiktok: Dari Hiburan Menjadi Mesin Pencari 

Platform seperti TikTok membuktikan bagaimana visual menjadi daya tarik utama dalam pencarian. Bukan lagi sekadar hiburan, TikTok kini jadi mesin pencari favorit, terutama bagi generasi yang lebih muda, seperti Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha -- yang juga akan memimpin pasar di masa depan. 

Data menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, 41% responden di Amerika Serikat menggunakan TikTok untuk mencari informasi. Pergeseran ini terjadi karena TikTok menawarkan cara yang lebih visual dan personal untuk mencari info lewat video-video pendek yang terasa otentik. Generasi ini juga menunjukkan kecenderungan mereka untuk langsung mencari produk di situs e-commerce tanpa melalui Google terlebih dahulu. 

 

AI sebagai “Mesin Jawaban” Generasi Baru 

Di sisi lain, AI telah mengubah ekspektasi kita. Dulu kita puas dengan sekadar daftar tautan, sekarang kita ingin jawaban langsung. ChatGPT menjadi pelopor yang mengubah cara kita mencari informasi ini. Terbukti dari pasar AI search yang terus berkembang pesat, meningkat dari 0.02% di 2024 menjadi 0.13% di 2025. 

Meskipun angka ini masih kecil, tren ini sangat penting karena mencerminkan cara pikir generasi muda yang lebih suka konten visual dan interaktif, serta mencari informasi secara lebih langsung dan otentik. Dengan daya beli yang terus meningkat, perilaku ini akan menjadi kunci penting bagi masa depan pemasaran dan bisnis.

 

Increment AI traffic share

 

AI Bergerak Menuju Arena Ritel
Perusahaan-perusahaan AI menyadari bahwa nilai ekonomi terbesar ada di sektor ritel, di mana transaksi terjadi. Inilah mengapa platform AI kini tidak hanya ingin menjadi "mesin jawaban" tetapi juga berupaya merebut pangsa pasar ritel.

OpenAI pun baru-baru ini memperkenalkan fitur yang memungkinkan bisnis mendaftarkan feed produk mereka langsung ke sistem ChatGPT, sehingga produk tersebut bisa muncul saat pengguna menanyakan kategori atau merek tertentu. 

LP_Search_Hero_16x9.webp

Ke depan, persaingan tidak lagi hanya soal pencarian informasi, tetapi bagaimana merebut pelanggan ritel. Platform AI berpotensi mendapatkan komisi atau monetisasi dari penjualan produk dengan bertindak sebagai referral bagi merek.

 

Lantas, Bagaimana Nasib Google?

Walaupun customer behavior bergeser, tapi Google masih tetap mempertahankan tahtanya di dunia pencarian. Memegang 93.5% pangsa pasar di 2025, senjata utama Google adalah keandalan dan akurasi yang bersumber dari indeks ratusan miliar halaman web dengan size lebih dari 100 juta GB. Menjawab tantangan dari conversational AI, Google meluncurkan AI Overviews sebagai langkah strategis untuk menyajikan jawaban instan tanpa mengorbankan kredibilitas sumber.

 

Search market share

 

Kemudian, muncul pertanyaan besar: apakah SEO konvensional di Google masih relevan? Asumsi bahwa SEO akan mati adalah keliru. Namun, fokusnya memang berubah. SEO tidak lagi hanya tentang peringkat tinggi di Google, tetapi juga tentang bagaimana mengoptimalkan konten agar bisa dikutip dan ditampilkan oleh platform AI. Ini yang dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO).

Agar produk atau konten Anda muncul di hasil pencarian AI, Anda harus memastikan data Anda terstruktur dengan baik (misalnya, menggunakan schema markup), konten Anda otoritatif, dan produk Anda memiliki ulasan yang kredibel. AI akan mengambil informasi dari sumber-sumber terpercaya untuk menyusun jawaban mereka.

Lantas, bagaimana nasib iklan berbayar (paid ads)? Google menyadari pergeseran perilaku ini dan telah mengambil langkah strategis. Mereka tidak akan membiarkan pendapatan dari iklan bergeser begitu saja. Google mulai mengintegrasikan iklan berbayar langsung ke dalam hasil pencarian bertenaga AI (seperti AI Overviews), bahkan untuk kueri yang bersifat informasional. Hal ini berarti iklan berbayar tidak akan hilang, melainkan akan beradaptasi dan mengambil format baru yang lebih terintegrasi dengan jawaban AI.

 

Risiko tersembunyi di balik kemudahan

Popularitas TikTok dan AI membawa kemudahan yang tak tertandingi, namun kemajuan ini juga datang dengan risiko yang harus diwaspadai. Di balik jawaban instan dan konten visual yang menarik, terdapat beberapa jebakan yang dapat merugikan.

 

Risiko #1: Jebakan Informasi Tidak Akurat, Ketika AI "Berhalusinasi" 

AI memang canggih, tapi bukan alat yang sempurna. Ada fenomena yang disebut "AI hallucination", di mana AI memberikan informasi yang salah seolah-olah itu fakta yang benar. Hal ini sangat berbahaya karena AI menyajikan informasi palsu dengan tingkat kepercayaan diri yang sama tingginya seperti saat memberikan informasi yang benar, tanpa sedikit pun keraguan seperti "saya tidak yakin" atau "kemungkinan besar". Ini menciptakan ilusi akurasi yang menipu.

Data dari OpenAI menunjukkan betapa seriusnya masalah ini: model GPT-o3 mereka, berhalusinasi dalam 33% dari tes benchmark yang melibatkan tokoh publik memberikan dua kali lipat tingkat error dibanding model sebelumnya. Yang lebih mengerikan lagi, model compact GPT o4-mini bahkan berhalusinasi pada 48% tugas serupa

 

Risiko #2: "Echo Chamber" & Sumber Terbatas - Ketika Dunia Menjadi Sempit  

Masalah kedua sama seriusnya, yaitu keterbatasan dan bias sumber informasi. AI dilatih menggunakan data yang terbatas dari internet, bukan seluruh pengetahuan manusia. Ini berarti ada perspektif, budaya, bahasa, dan informasi yang hilang atau kurang terwakili. 

TikTok, dengan algoritma rekomendasinya yang sangat personal, kerap menciptakan echo chamber yang memperkuat pandangan tertentu dan mempercepat penyebaran misinformasi, terbukti dari studi NewsGuard (2022) yang menemukan 1 dari 5 video pencarian topik sensitif mengandung informasi keliru

Di sisi lain, AI juga memiliki keterbatasan. Ia hanya bisa mengolah informasi berdasarkan data yang dilatihkan kepadanya. Seringkali, data ini tidak lengkap atau mengandung bias, sehingga hasil yang diberikan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan dunia nyata.

Baik algoritma media sosial maupun AI modern sama-sama berisiko menyebarkan informasi yang keliru. Dalam isu-isu sensitif seperti kesehatan atau politik, hal ini tentu dapat menimbulkan dampak yang sangat serius.

 

Risiko #3: Jebakan Privasi di Era AI

Di akhir Juli 2025, OpenAI sempat merilis fitur “Share” yang memungkinkan pengguna membagikan percakapan ChatGPT ke publik. Salah satu opsinya adalah membuat percakapan tersebut bisa ditemukan di mesin pencari seperti Google. Tanpa disadari banyak pengguna, ribuan percakapan termasuk yang berisi informasi pribadi seperti resume, rencana bisnis, bahkan data sensitif sempat terindeks dan muncul di hasil pencarian

OpenAI dengan cepat menarik fitur tersebut dan menghapus indeks dari Google, tetapi insiden ini menegaskan bahwa privasi dan literasi digital tetap menjadi isu krusial di era pencarian berbasis AI. 

 

Kesimpulan: Menjadi Pencari yang Cerdas di Era Baru 

Era pencarian informasi telah berubah berkat TikTok dan AI. Keduanya menawarkan kemudahan yang belum pernah ada, namun juga datang dengan tanggung jawab besar. 

Untuk cerdas di era ini, literasi digital menjadi kemampuan yang wajib dimiliki. Keterampilan paling krusial adalah verifikasi silang (cross-checking). Artinya, jangan langsung percaya satu sumber, bahkan dari AI atau video TikTok. Pastikan untuk membandingkan informasi dari minimal 2-3 sumber independen, periksa kredibilitas penulis, dan waspadai kemungkinan bias.

Selain itu, penting juga untuk dipahami bahwa platform pencarian tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Google bisa digunakan untuk riset mendalam, TikTok untuk mendapatkan perspektif visual, AI untuk analisis cepat, dan media tradisional untuk verifikasi berita. 

Kunci menggunakan alat-alat ini secara optimal adalah tahu kapan dan bagaimana menggunakan setiap alat ini dengan tepat. Dengan literasi yang baik, kita bisa menavigasi dunia digital dengan lebih bijak. Di era serba cepat ini, menjadi pencari yang cerdas adalah tanggung jawab bersama, karena pada akhirnya, akurasi jawaban jauh lebih penting daripada kecepatan.

 

 

Artikel Sebelumnya
Berlangganan buletin kami untuk pembaruan
Astra Digital

Quick Menu

Lainnya

© 2026 AstraDigital

Punya Pertanyaan?

Terhubung dengan kami

Globe